Monday, May 29, 2017

Terlalu Meyibukan Diri


Di waktu muda ini kau selalu berkata “Kita harus saling memantaskan diri dulu”. Aku tahu bahwa orang tuamu menginginkan pendamping anaknya dengan spesifikasi tinggi, tapi tidakah kau sadar bahwa saat kau sibuk memantaskan diri, kau sudah tidak menjadi pribadi yang dulu aku kenal.

Tak ada yang lebih berat selain melakukan sesuatu secara paksa, tidak ada yang lebih melelahkan selain melakukan sesuatu yang tidak kita suka. Kalau benar kita saling mencinta, kriteria hanyalah bualan omong kosong. Kita tidak perlu kriteria sayang, kamu hanya perlu menerimaku dengan kekuranganku lalu kamu menutupinya dengan kebaikanmu.

Pegang janji yang pernah terucap dari mulutku, jika aku tidak berhasil menggapainya kamu punya dua pilihan. Pertama, kau meninggalkanku dengan alasan aku adalah pengingkar janji, kedua, kamu menemaniku dalam meggapai janji-janji. Tapi aku pikir ini bukan sebuah pilihan. Kamu pasti maunya aku menepati janji, lalu kita membuat janji bersama dan menggapainya bersama juga.

Aku tahu kamu inginkan kepastian dan masa depan yang jelas, namun ingatlah sayang, saat kau benar-benar sudah pada taraf pantas mungkin kita sudah tidak saling kenal. Karena kau sudah tidak menjadi dirimu dengan balutan mimpi-mimpi yang dulu kau pamerkan kepadaku. Kau menjadi orang lain demi sebuah materi penjamin masa depan. Ini bukan salahmu, tapi salahku yang pengangguran dan tidak memberimu kepastian.

Saturday, May 13, 2017

Ngeteh Bareng Nyai Ratu Kalinyamat


Sehabis nonton Pesta Baratan di Kalinyamatan Jepara, Jarwo kesengsem sama pemeran Nyai Ratu Kalinyamat. Dia bertekad untuk menemui Nyai Ratu untuk mengenalnya lebih dalam. Memang kecantikan pemeran Nyai Ratu bukan main. Alisnya simetris tepat, matanya memancarkan aura memikat, juga bibirnya yang tipis dibalut gincu merah muda yang membuat siapa saja muda lagi kalau memandangnya. Azwarlah yang menjadi korban kegilaan Jarwo dalam misinya bertemu pemeran Nyai Ratu.

Singkat cerita Jarwo dan Azwar mendapat kesempatan bertamu ke rumah pemeran Nyai Ratu. Akhirnya jarwo tahu siapa nama si cantik itu, Nailal Izza . Ternyata Mbak Izza ramah dan sama sekali tidak menunjukan kesombongannya. Jarwo yang sangat antusias bertemu Mbak Izza malah mati kutu didepan beliau. Segelas teh sudah Jarwo habiskan untuk menenangkan tubuhnya. Entah apa yang membuat Jarwo se grogi ini.

Jarwo akhirnya membuka mulut “Mbaknya ini kerja apa kuliah?”. Pertanyaan kelas bawah. Mbak Izza dengan senyum penuh kepastian “Saya mengajar di SLB Kalinyamat mas atau YCHI Autism Center, menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Meningitis, auis adalah makanan saya sehari-hari, kunci pekerjaan saya adalah kesabaran, masnya sendiri kuliah atau kerja?”. “Pengangguran mbak”.

Azwar, 17 Tahun


Wednesday, April 26, 2017

Ziarah Tapi nggak Jamaah


Demak sebutannya adalah kota Wali. Kota diseluruh Indonesia juga punya sebutan masing-masing, ada Jepara dengan Jepara Kota Ukir, Bogor Kota Hujan, Kudus Kota Kretek. Esensiya seluruh kota di dunia manapun punya kearifan lokal. Jarwo dan Azwar hari ini sedang melepas penat dengan refreshing ke Semarang. Kedua orang ini adalah backpacker gendeng yang hanya modal ngebet hits. Mereka percaya berwisata tidak harus lewat jalur wisata. Makanya dia memilih memasuki kota Demak sebelum bertolak ke Semarang. Menolak jalur pantura. Karena hakikat backpacker adalah belajar mengenai makna kehidupan yang sesungguhnya, ya dengan cara langsung berbaur dengan masyarakatnya. Wisata yang memakai jasa tour and travel hanya untuk orang pensiunan saja. Itulah pemikiran mereka. Kisah backpacker ada di tab “Backpacker”.

Jarwo dan Azwar menyempatkan beristirahat dan akan mendirikan sholat di Masjid Agung Demak. Disini tidak akan sepi peziarah, datang dari berbagai kota di Indonesia. Azwar yang sedang tidur pulas di Masjid tiba-tiba dikagetkan Jarwo.

“Sebenarnya apa esensi dari ziarah menurut kamu war”.Jarwo membisikan ke telinga Azwar yang masih pulas
Ngganggu wong turu si wo kue”.
“Piye menurutmu”
“Ziarah ya untuk mendoakan orang yang sudah meninggal agar di ampuni dosa-dosanya oleh sang Maha Pengampun”.
“Berarti sang pendoa pasti taqwanya melebihi orang kebanyakan, karena sudah mencapai taraf bermanfaat bagi orang lain”. Jarwo menyahuti
Mboh-mboh karepmu dewe”.
“Tapi kenapa mereka yang tarafnya sudah berani mendoakan Sang Waliyullah kok malah berfoto ria ketika adzan berkumandang. Apa mereka tuna rungu?”.
“Tidak semua yang Islam itu baik , juga tidak semua yang berziarah itu taraf taqwanya sudah melebihi kebanyakan orang. Dari rombongan mereka juga pasti ada orang-orang yang hanya anot. Mola melu ntok, penting iso jalan-jalan”.  
“Ziarah kok nggak Jamaah”.
“Lihatlah di Masjid Agung Demak ketika maghrib tiba. Ramainya melebihi alun-alun kota dan juga banyak yang hanya numpag toilet”.

Azwar melanjutkan tidurnya. Jarwo kembali mengamati sekitar dengan penuh pertanyaan. Namun tiba-tiba Jarwo kaget bukan main. “Lho war kita kan belum sholat Dzuhur, malah kue wes kepenak nek mu turu”. Azwar kaget berdiri dan mengambil air wudhu. Sebelum takbir di angkat, adzan ashar telah berkumandang. Jarwo dan Azwar memang sahabat yang gendeng. Ngritik tapi ragelem nglakoni

Azwar, 17 Tahun



Tuesday, April 25, 2017

Jarwo Mimpi Jadi Pengusaha


Jarwo hari ini nampak gelisah di teras rumahnya. Ditemani segelas kopi dan buku bacaan “Slilit Pak Kiai” dari Cak Nun. Mulailah dia merenungi nasibnya. Teman-temannya sedang sibuk mempersiapkan lamaran pekerjaan, Jarwo malah hanya duduk termenung gelisah. Bukanya dia malas, kalau boleh sedikit sombong, dia termenung untuk menentukan pilihan pekerjaan mana yang harus Jarwo ambil. Jarwo mendapat banyak tawaran pekerjaan karena skillnya bisa dibilang mumpuni.
Tapi dia punya komitmen dengan sahabatnya Azwar untuk menjadi seorang pengusaha. Karena menurut mereka pengusaha adalah kaum minoritas namun mengendalikan mayoritas. Pernah suatu ketika ia bedebat mengenai nasib pengusaha dengan Azwar.

“Jadilah pengusaha maka kamu mengurangi satu pengangguran di Indonesia” Azwar sok bijak.
“Bukanya di sini yang dianggap mapan adalah seorang pegawai. Apalagi pegawai negeri, ya pasti dapat istri yang semok” Jarwo menyahut.
“Maksut kamu piye wo, bojone pegawai negeri kok semok?
Sok nggobloki kue war, jual beli jabatan kan nggak harus menggunakan uang. Kalau bisa menjadi bisnis keluarga kan akan semakin mudah”.
“lha terus apa relasinya dengan istri semok?”.
“Manusia adalah tempat bersarangnya hawa nafsu, di hadiahi istri aduhai dan lihai di ranjang ya proyek pasti jalan”.
“Oh saya paham maksut kamu wo”.
“Tapi saya setuju denganmu untuk menjadi pengusaha, karena pegawai hanya bekerja untuk orang lain dan main aman. Namun seorang pengusaha harus menentukan nasibnya sendiri. harus gagah berdiri, ulet, kreatif, dan berani jatuh dalam kehidupan” Jarwo semangat sekali.
“Wo Jarwo, sopo ngomong pegawai bekerja untuk orang lain. Pak Pejabat itu pegawai, nyatanya dia bekerja untuk dirinya sendiri”. Azwar menambahi
Jancok kue war”.

Setelah menimbang-nimbang, Jarwo gagal menentukan pilihan. Dia teringat kata seniman Pak Didit endro yang rumahnya satu blok dengan sahabatnya Azwar. “Demokrasi kita saat ini adalah Dari Rakyat, Oleh Pemerintah, Untuk Pengusaha”. Jarwo berasumsi bahwa pengusaha juga makhluk bejat seng senengane nyogok pejabat gara-gara teringat kalimatnya Pak Didit.

Jarwo sampai mendirikan sholat istikharah demi memantapkan pilihan. Setelah memanjatkan doa dengan khusuknya, akhirnya jarwo mendapat ilham. Lebih baik demokrasi Dari Rakyat, Oleh Pemerintah, Untuk Pengusaha daripada Dari Rakyat, Oleh Pemerintah, Untuk Pejabat. Karena kalau diperuntukan untuk pengusaha maka akan membuka lapangan kerja untuk banyak orang. Bayangkan kalau untuk pejabat. Paling pol ya untuk antek-anteknya. Tapi Jarwo lebih memlih menganggur untuk saat ini demi menemani sahabatnya Azwar yang tak kujung menentukan nasib.

Azwar, 17 Tahun

Tuesday, April 18, 2017

Wawancara Gila



Pagi buta Azwar sudah disibukan dengan undangan wawancara masuk kuliah ke Semarang. Sebenarnya sih Azwar memang nggak niat-niat banget, eh dia malah lolos tahap satu. Kita tahu bersama bahwa Azwar adalah orang yang sembrono alias ngomong sak karepe udele. Bersama sahabatnya Jarwo dia menuju Semarang. Yang dia juluki sebagai kota rob.

Dengan motor bututnya dia harus berangkat sebelum adzan subuh berkumandang, karena kalau telat sedikit saja dia akan jadi pepes di sepanjang kawasan Sultan Agungn. Jika Jarwo dikondisi seperti  itu dia pasti sudah protes ngalor ngidol menyalahkan siapa saja yang berkaitan dengan pemegang kebijakan. Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya mereka berdua sampai di Universitas tujuan.

Sialnya Azwar harus mendapat nomor urut 186. Dan itu nomor terakhir. Jarwo yang tidak sabar menunggu Azwar akhirnya mengelilingi Univeritas yang katanya besarnya sama dengan kampung Jarwo. Naluriah Jarwo muncul saat ada segerombolan mahasiswi yang menamakan dirinya Islamic Modern Community. Dia memegangi juniornya agar tidak berdiri dan menyembul. Bisa malu dong Jarwo. Namun juniornya juga pengen  eksis dengan menyatakan “Saya tidak impoten”. Jarwo memang benar-benar sudah kualat. Nafsunya liar. Padahal para mahasiswi sudah mengenakan pakaian muslim yang tertutup rapat serapat-rapatnya sampai-sampai Jarwo tidak meihat celah antara kulit dan kain pakaian. Ya Jarwo memang sudah melihat karya Tuhan yang sungguh indah. Makanya juniornya menegang.

Menjelang adzan ashar akhirnya Azwar mendapat giliran wawancara. Pertanyaan pembuka khas wawancara berjalan lancar. Ceritakan latar belakangmu, bagaimana kondisi ekonomi keluarga, dan pertanyan wajib pewancara seleksi, kenapa kamu memilih kuliah disini?. Azwar menjawab dengan mudah karena ini hanyalah  pertanyaan untuk menguji kecakapan dalam berbicara. Ini sih makanan Azwar sehari-hari. Nampaknya juri wawancara sudah kelelahan. Dia bemalas-malasan dalam bertanya. Namun, bukanlah Azwar kalau belum kurang ajar.

“Apa hal yang paling sulit yang pernah kamu alami dalam hidup?” Juri bertanya dengan malas
“Saya lahir diantara orang-orang yang tidak jujur seperti peserta wawancara sebelum-sebelumnya saya yang terlihat sempurna, padahal asline podo wae”. Azwar juga menjawab dengan malas
“Dari segi apa ketidak jujuran mereka?”. Juri berdehem
“Dari segi mana saja Pak Dosen. Masa lalu mereka terlihat sempurna tanpa cacat apalagi mengalami proses kegagalan. Mereka seperti sudah memiliki semuanya dan tidak perlu lagi menempuh perkuliahan. Apakah itu yang dicari dari wawancara ini Pak Dosen?. Padahal disini adalah tempatnya orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan bukan pamer intelektual”.
“Hahahaa, kamu ini lho aneh. Ini kan wawancara masuk kuliah, ya harus mencari yang terbaik. Apalagi ini jalur khusus siswa berprestasi. Yang terbaiklah yang akan diterima, agar mereka berkontribusi untuk Univeritas dengan prestasinya”.
“lho ini jalur khusus siswa berprestasi toh. Kenapa saya diundang wawancara?. Saya kan ndak punya prestasi?”
“Saya kan tadi udah bilang, kalau ini jalur KHUSUS” Juri tersenyum sumringah.

Azwar dan Juri akhirnya keluar dari Auditorium menuju warung kopi di pasar murah belakang Uiversitas. Mereka jagong ngalor ngidol dan semakin akrab hanya karena satu kata “KHUSUS”. Setelah maghrib Azwar akhirnya bertolak ke Jepara. Namun dia lupa satu hal penting. Dia pulang tanpa sahabat karibnya. Jarwo. Kata Jarwo dia akan pulang besok pagi karena malam ini dia harus menginap di kos teman barunya yang menjadi anggota Islamic Modern Community.


Azwar, 17 Tahun

Thursday, April 13, 2017

Debat “LUCU” Pilkada DKI


Azwar malam ini nampaknya akan senang sekali. Pasalnya malam ini akan ada empat orang berpendidikan tinggi saling beradu argumen untuk membangun DKI. Maklumlah Azwar pendidikannya hanya sampai sebatas patok tenda. Apalagi setelah Ujian Nasional ini dia resmi menjadi pengangguran professional dengan pangkat S. Pg.

Malam ini Azwar mengundang teman seperjuangan untuk nonton bareng di gubuknya. Ditemani kopi tempur tanpa gula asli Jepara yang aromanya membuat siapa saja jatuh cinta.  Gorengan gurih mbok Yem tak mau kalah berpartisipasi memeriahkan nonton bareng debat final Cagub DKI. Mbak Ira Koesno yang body aduhai menarik  perhatian teman Azwar.

“War saya siap adol motor buat nglamar mbak Ira Koesno”.
Hah cocotmu kok elek. Kita harus fokus debat dengan memperhatikan Visi Misinya”
“Apa cagubnya nggak nafsu ya war, melihat anunya mbak Ira yang uhhhhh”
“Itu kalau Cagubnya kamu”
“ohhh jangan salah kamu War. Seharusnya memang saya yang harus menjadi Cagub. Soalnya saya sebagai orang miskin sudah tidak diragukan lagi tingkat keadilannya. Hari-hari kami orang miskin dipenuhi dengan keadilan. Bagaimana tidak adil. Kami harus membagi penghasilan kami yang pas-pasan untuk menghidupi keluarga juga untuk membeli material untuk nambal jalan. Dengan uang pas-pasan saja kami masih bisa berbagi demi kemaslahatan umat”.
“Kamu ngomong seperti itu karna kamu belum pernah diberi kekuasaan”.
“Bagaimana mau berkuasa kalau kekuasaan itu diperjualbelikan”.
wes, wes rak usah mbahas seng rak penting

Azwar dan temannya akhirnya memerhatikan jalanya debat Cagub DKI. Seperti menonton OVJ di Trans 7. Setiap kali ada calon yang mengutarakan progamnya diluar akal manusia sehat mereka akan tertawa sekeras-kerasnya sampai tetangganya menegur beberapa kali. Dan yang paling parah adalah ketika calon Jempol menjawab fakta reklamasi dengan sebuah opini anak TK. Azwar dan temannya sampai mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat pengampunan dosa.

Gorengan mbok Yem malam ini memang tanpa Lombok setan. Ya tau sendiri lah setan akhir-akhir ini sibuk ngotot ingin punya jabatan di Kantornya Pak Dhe.

“Jujur war saya lebih suka dengan progamnya Pak Ahok. Adil, bijaksana, dan tidak memanjakan masyarakat DKI”.
“Manja bagaimana maksudmu?.
“Ya kalau pengen hidup layak di DKI yo mesti kudu wani kesel lan kudu pinter”.
“Kalau yang satunya. Saya lebih memilih wakilnya pindah jadi Cagub”
“Ouh”.

Mereka berdua terus asyik menyaksikan debat sampai larut malam. Kopi tempur malam ini benar-benar manjur mengusir kantuk. Azwar tiba-tiba nyeletuk “Wo Jarwo py nek Cagub DKI seng kalah kita jadikan Bupati Jepara”. “Wah setuju aku War. Tapi belum tentu mereka bisa sebaik Bupati kita war”. Semua terdiam lengang. Lebih baik dari mana coba. Mungkin begitulah bahasa wajah Azwar.  


Azwar, 17 Tahun

Tuesday, April 11, 2017

Cinta dan Nafsu


     TMP siang itu suasana cerah. Burung-burug bersuara seperti biasanya. Suara mesin pemotong rumput taman berpacu dengan keringat perjuangan mencari rupiah. Azwar saat itu sedang dirundung galau tingkat dewa. Dia dituduh teman-temanya mempunyai otak kotor atau jawanya itu ngeres. Selama hidup Azwar memang sudah biasa dituduh-tuduh, tapi kali ini dia kurang setuju dengan tuduhanya. Kurang pas. Dulu saat dia berhasil mendapatkan cewek idola sekolah, dia dituduh menggunakan ilmu hitam untuk mendapatkannya sampai-sampai ilmu hitam yang digunakan melekat di kulitnya. Azwar setuju dan membenarkan.

     Tapi untuk masalah nafsu dia menolak keras. Dia bersikukuh mencintai kekasihnya apa adanya. Tanpa terlintas dipikiran untuk memerawaninya. Tiba-tiba teman Azwar datang dari belakang.

 “Nafsu tidak perlu direnungi melainkan dipelihara”
“Saya bersumpah. Saya tidak nafsu dengan kekasihku”
“Nyatanya kemarin kekasihmu pulang dengan bekas merah di lehernya”
“Itu kegigit”
“Untung dia masih perawan war”
ngomong opo kue
“Percayalah sesuatu yang ditahan sekarang akan merasa sangat nikmat jika dilepaskan nanti. Kalau kamu benar-benar mencintainya rawatlah dia seperti kamu merawat dirimu. Cinta dan nafsu hampir tidak ada batasnya. Karena setelah dua remaja saling mencintai disitulah nafsu tumbuh bagai jamur di musim hujan. Subur. Kamu lihat di pojok sana. Disana ada dua remaja saling mencintai dan saling menikmati dosa zinah. Taman Makam Pahlawan yang sejatinya untuk mengenang dan menghormati Pahlawan yang gugur malah menjadi ladang subur pecinta seks bebas”
“Itu kan hak mereka di era kebebasan dan globalisasi. Selama mereka berkomitmen kan its oke. Toh kita tidak kehilangan sesuatu apapun dari perbuatan mereka”
“Besok aku mau merawani pacarmu dulu kalau gitu”

     Seketika itu Azwar langsung terdiam dan mengusir temannya. Dia meneruskan renungannya dan terus bertanya kepada Tuhan “yaaaa Tuhan kenapa engkau ciptakan Cinta dan Nafsu kalau pada akhirnya makhlukmu menghianatimu”. Teman yang diusir Azwar tidak langsung pulang. Dia malah asyik tawar menawar harga denga wanita montok dengan cawet merahnya. Ohhh jancuk.


Wednesday, April 5, 2017

Adu Dorong Paripurna Nasib DPD


Kata Bang Iwan Fals “Wakil Rakyat Kumpulan Orang Hebat”. Sudah terbukti dan terpampang nyata dalam pentas teater sidang Paripurna. Azwar yang sedang sibuk memikirkan Ujian Nasional ditambah pusing dengan dimintai pendapat tentang “Adu Dorong Paripurna Nasib DPD”. Salah satu temannya berpendapat “Wah ini benar-benar memalukan panggung politik negeri kita, masak manusia berpendidikan sekelas Doktor kok ndak bisa santun beragumen”. Teman yang tadi berpendapat menyeggol Azwar. “Piye iki terusan”. Azwar menjawab dengan bijak. Kadang-kadang Dia bijak kalau sedang fokus pada sesuatu. “Mereka kan juga manusia , punya batas kesabaran dan ambang nalar”. Teman yang lain protes “Yooo ndak bisa gitu tho mereka itu dibayar rakyat untuk membuat kebijakan bukan buat keributan, omong kosong dengan kesabaran”. Azwar masih meneruskan membaca buku persiapan UN Bahasa Inggrisnya.

“Kalian ini sedang Ujian Nasional kok malah bahas yang seharusnya tidak perlu dibahas” Azwar nyeletuk. Semua teman-teman Azwar nampaknya tidak akan berhenti berdebat sampai menjelang maghrib. Mereka harus mendapat argument yang kuat sehingga mereka mau membubarkan diri dengan senang hati. Yang dipermasalahkan disini bukanlah hasil rapat atau kebijakannya. Teman-teman Azwar sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Yang dipermasalahkan mereka adalah adu dorongnya. “Mungkin mereka belum pernah mengenyam pendidikan karakter” salah satu teman Azwar nyeplos. “Hust ngomong opo kue, mereka itu putra-putri terbaik daerahnya sebagai wakil di pemerintahan kok, ya pasti manusia-manusia terdidik” teman yang lain menyanggah. Dan perdebatan masih terus berlangsung.

Telinga Azwar mulai panas mendengar keributan yang mengganggu belajarnya. Tiba-tiba Azwar angkat bicara “Sejatinya panggung politik itu kelasnya sama dengan panggung teater, yaa mungkin dulunya mereka ikut UKM Teater jadi aktingnya bisa memukau. Biarkan mereka bersandiwara, penonton boleh mencaci maki, berkomentar, bahkan menimpuknya. Namun ingatlah itu tidak akan mengubah alur ceritanya. Panggung politik tidak diperuntukan kepada orang jujur. Karena orang jujur di panggung politik tak ubahnya hanya sebagai pemain figuran. Jadi aku yang orang teater ini seharusnya berbangga. Selangkah lagi aku akan diangkat menjadi anggota dewan karena kelincahanku dalam berakting alias menipu”. Beberapa menit lengang. Semua peserta debat akhirnya meninggalkan tempat. Dan ternyata Azwar lupa kalau besok ujiannya adalah matematika bukan Bahasa Inggris. Ohh sialnya nasib Azwar.

Azwar, 17 Tahun

Calon Petinggi

Tuesday, March 28, 2017

Bapak Bicaralah


Menurut hadis nabi orang yang harus pertama kali kita hormati adalah Ibu, Ibu, Ibu selanjutnya baru Bapak. Tapi dalam hal mendidik anak-anaknya peran keduanya haruslah seimbang. Seorang Ibu yang pengasih dan seorang Bapak yang bijaksana akan menghasilkan anak-anak berkarakter dan mempunyai perangai baik. Aku sekarang duduk di kelas tiga di salah satu SMK di Kota Jepara. Dan sebentar lagi akan graduated. Insyallah.

Aku dua bersaudara. Kakak perempuanku sekarang sudah bekerja di salah satu proyek besar milik Jepang sebagai akuntan. Ibuku orang yang bertanggung jawab dengan segala urusan rumah dan Bapak adalah seorang PNS yang bertugas di Taman Kanak-Kanak sebagai Guru Pengajar. Umurku sekarang menginjak delapan belas dan Aku masih bisa menghitung berapa kali aku bercakap dengan Bapaku. Semenjak Aku duduk di kelas 3 SMP, Bapak mulai berubah cara mendidiknya. Yang dulunya selalu dimanja dan dinomorsatukan sekarang Bapak lebih bijaksana.

Aku masih ingat ketika dulu waktu masih duduk di sekolah dasar. Masa-masa itu Aku ingin mencoba banyak hal untuk menemukan jati diri. Pernah mengikuti Sekolah Sepak Bola juga Pencak Silat selama satu tahun dan selama itu pula Bapak selalu mengantar dan menemaniku. Bukannya Aku manja tapi Bapak yang memintanya. Karena beliau paham akan tanggung jawab perkembangan anaknya.  Pernah sekali aku mengecewakan beliau yang hingga saat ini aku masih mengingatnya dengan jelas.

Saat itu pagi hari, hujan lebat mengguyur kota. Bapaku siap mengantarkanku berangkat sekolah. Aku kelas 3 SMP. Perjalananku menuju sekolah aman-aman saja. Hingga tiba-tiba sebelum tikungan terakhir menuju sekolah, motor Bapak terperosok ke lubang jalan yang tertutup genangan air. Saat itu sudah pukul 07.00. Aku turun dari motor mulai berhitung dengan keadaan, kalau Aku bantu Bapak mengeluarkan motor dari kubangan akan memakan banyak waktu dan Aku telat masuk sekolah. Seragam osisku semakin basah kuyup. Saat itu Aku benar-benar mengambil keputusan yang bodoh. Tanpa bercakap dengan Bapak, Aku sudah berlari meninggalkan Bapak yang masih sibuk mengeluarkan motor dari kubangan. Aku mulai menembus hujan menuju gerbang sekolah dengan berasumsi Bapak pasti akan mengijinkanku tidak membantunya karena ditakutkan akan telat. Ternyata asumsiku salah besar. Saat Aku pulang ke rumah, Ibuku marah besar karena Aku meninggalkan Bapak sendirian berjuang mengeluarkan motor dari kubangan. Aku masih ingat sekali Ibuku mengucapkan kalimat ini. “Apakah gurumu pernah mengajari kamu meninggalkan orang tua yang kesusahan, lihat Bapakmu, sekarang demam tinggi karena kau. Hari ini kau buat kesalahan besar. Bukan karena kau meninggalkannya saat hujan, tapi kau lancang meninggalkan orang tua tanpa pamit”. Dan mulai dari kejadian itu, Bapak memilih diam dalam mendidiku. Diam dalam aritian bijaksana, membiakan Aku mencari duniaku sendiri.

Aku lulus SMP dan mencoba meneruskan ke salah satu SMA ternama. Nilaiku mencukupi untuk itu. Bapak tidak mengarahkanku juga tidak membebani.  Semuanya terserah padaku dan Bapak masih diam dalam kebijaksanaan. Tapi akhirnya Aku memilih masuk SMK karena setelah lulus Aku punya dua pilihan. Kuliah atau Kerja. Selama tiga tahun di SMK Aku mencoba menyibukan diri mengikuti banyak kegiatan agar waktuku bisa kuhabiskan di sekolah. Karena di rumah rasanya mulai sepi dicampur canggung kalau ada Bapak dan Aku dirumah. Tidak saling sapa apa lagi bercanda ria. Hari-hari aku lewati dengan intensitas percakapan yang minim sekali, bahkan dalam satu hari tidak bercakap sama sekali. Kalau Aku sedang duduk di teras membaca buku dan Bapak akan menikmati kopinya, Bapak memilih membatalkan niatnya menikmati kopi kalau tahu ada Aku di teras. Bapak ini sedang menghukumku atau sudah menyesal punya anak Aku. Sejak saat itu, Aku berpikir, mungkin Bapak memang sudah tidak peduli denganku.

Sebentar lagi Aku lulus dari SMK dan Aku ingin sekali meneruskan di Universitas Ternama. Mengejar semua cita-cita dan melihat dunia yang sebelumnya hanya Aku lihat di internet. Namun Ibuku mematahkan semangatku. “Bapakmu suruh kau pikir-pikir dulu untuk masuk kuliah. Karena Bapakmu sedang sulit dalam ekonomi nak”. Ibuku menjelaskan dengan Bahasa sebaik mungkin. Namun Aku tidak bisa menerimanya dengan baik. Bulshit dengan ekonomi. PNS itu dijamin negara mulai dari kesehatan sampai pendidikan anak-anaknya. Kenapa hanya membiayai kuiahku saja harus dipikir -dipikir. Aku benci dengan Bapaku saat itu. Mungkin Bapak memang sudah tidak peduli denganku apalagi pendidikanku. Aku kalah. Seharian Aku menangis dalam kamar. Bapak memang sama sekali tidak peduli denganku.

Aku semakin dewasa tapi intensitas komunikasiku dengan Bapak semakin hilang bahkan luntur dan bahkan lagi Bapak sudah tidak peduli denganku. Aku teringat nasihat bijak guru agama di sekolah yang mengatakan. “Ridho Allah tergantung ridho kedua orang tua, jadi berbaktilah semampu kalian kepada orang tua. Dan ingat ini baik-baik, semarah apapun orang tua kalian. Tidak akan pernah ada orang tua yang membenci darah dagingnya sendiri”. Namun saat ini nasihat itu bagai angin lalu.

Hingga tengah malam Aku belum juga memejamkan mata. Aku mulai berpikir tentag janji-janji masa depan yang segera sirna. Aku harus bertindak menyelamatkan masa depan. Malam itu Aku membuat catatan dan rencana untuk mendapatkan uang bagaimanapun caranya. Malam itu juga Aku bertekad kuliah dengan pendapatan sendiri. Dan malam itu juga hatiku tersayar-sayat.

Adalah tengah malam waktu sebagaian manusia beristirahat. Aku mendengar percakapan Bapak dan Ibu di tengah sunyinya malam. Semua proses membuat rencana masa depan Aku hentikan demi mendengar percakapan itu. “Pak, bagaimana dengan kuliah anak kita?”. Ucap Ibu. “Aku sudah memikirkannya. Dia pasti berpikir kalau PNS itu ada jaminan dan gajinya akan selalu utuh. Tapi Dia belum tahu kalau hidup ini tidak hanya masalah pendidikan. Ada masalah lain yang harus segera diselesaikan. Tapi  bagaimanapun juga Dia harus kuliah”. Jawab Bapak. Aku hanya diam. “nanti kalau memang tidak ada jalan keluarnya Ibu akan jual perhiasan pak”. Ibu berkata lirih. Bapak menghela nafas. “Andai dulu Bapak tidak terjebak dalam dunia hitam perjudian. Kita tidak akan terlilit hutang juga angsuran rumah yang memberatkan, dan hari ini kita tidak menyaksikan anak kita menangisi masa depannya. Tapi tenanglah Aku akan bertanggung jawab atas pendidikan anaku dengan meminjam uang di Bank dengan jaminan motor kita”. Bapak menyahuti Ibu. Mereka berdua terdiam. “Sudahlah Pak tidak usah diingat kejadian itu yang penting saat ini adalah masa depan anak kita”. “Anak kita sudah tidur setelah seharian menagis?”. Bapak bertanya. “Mungkin sudah Pak”. “Aku merasa bersalah mendidik anaku sekeras ini dengan cara mendiamkannya. Tapi ini demi kebaikannya, demi kedewasaannya. Semoga Dia kelak menjadi anak yang luar biasa”. “Amin”. Ibu menangis

Hatiku tersayat-sayat. Aku menangis sejadi-jadinya. Memeluk guling, menarik selimut sampai menutup kepala dan berusaha menahan suara yang keluar dari tangisku. Malam itu Aku menyesal pernah membenci Bapak.  Benar kata guru agamaku. “Tidak akan pernah ada orang tua yang membenci darah dagingnya sendiri”.  Aku sayang Bapak dengan semua masa lalunya. Beliau adalah teladan terhebat dalam mengarungi kehidupan. Aku tahu dari Ibu perjuangan Bapak menjadi guru mulai dari bayaran tujuh puluh ribu hingga sekarang yang sudah layak. Bapak rela membelikan Aku Laptop padahal Beliau sendiri lebih membutuhkannya. Aku menyaksikan hingga larut malam Bapak mengurus pekerjaan dengan penuh dedikasi. Dua puluh tahun lebih Bapak mengabdi menjadi Guru. Dan selama itu pula Bapak tidak pernah mengeluh. Aku ingin sekali menghadiahi Bapak di Ulang Tahunnya tahun ini dengan sebuah Laptop. Agar beliau lebih meningkatkan profesionalitasnya dalam mengajar. Tapi Bapak, mengertilah Aku juga rindu bercanda gurau dengan engkau seperti dulu. Aku memang beranjak dewasa tapi kasih sayangmu Aku butuhkan sepanjang masa. Bapak bicaralah. Aku Rindu


Azwar 17 Tahun.

Tuesday, March 14, 2017

Mari Menemukan Jati Diri


Banyak buku yang sudah aku  baca, banyak film yang sudah aku tonton, banyak artikel internet yang aku habiskan, tapi hingga saat ini ilmuku sangat-sangat jongkok. Aku mencoba berkarya di media sosial dengan tujuan curhat secara sehat, bukan asal curhat layaknya anak alay lewat status-status rendahan. Blog ini aku buat untuk mencurahkan pemikiranku lewat tulisan bukan untuk mendulang rupiah lewat adsense. Tapi muncul pertanyaan dari salah satu temanku, terus kenapa kamu masih daftarin blogmu ke adsense?. Kita semua janganlah munafik masalah materi. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak bermain adsense, blogku aku daftarkan adsense ya jelas tujuanku mencari rupiah, tapi itu hanya salah satu dari tujuan-tujuan sekunder dari pendirian blog ini. Kalau tujuan utamaku rupiah ya pasti kontennya nggak acak adul seperti ini.

Ini adalah personal blog yang tidak mementingkan jumlah pembaca atau income adsense. Disini yang terpenting penulis puas akan tulisan dari hasil pemikirannya mengenai masalah dilingkungannya. Aku juga sudah buat blog yang kontennya tertata karena menurutku itu perlu untuk berbagi informasi tentang tempat-tempat travelling. check azwar backpacker dan semoga aku bisa istiqomah travellingnya juga membuat konten tulisan yang berbobot.

Kita kembali ke judul “Mari Menemukan Jati Diri”. Kalau kita sering membaca entah di internet atau buku-buku pasti banyak yang membahas mengenai Passion. Dalam kamus Bahasa Inggris Passion berarti nafsu atau keinginan besar. Bisa disimpulkan bahwa passion adalah melakukan sesuatu hal yang amat kita sukai atau gemari sehingga kita amat bernafsu untuk memberikan yang terbaik. Istilah gampangnya itu ya “Hobi”. Ridwan Kamil pernah mengatakan “Pekerjaan paling mudah di dunia adalah hobi yang dibayar”. Menurutku itu benar sekali. Pernah suatu hari aku ditawari membuat film bareng oleh SMA sebelah. Lalu aku tanya. Darimana mereka tahu kalau aku suka membuat film. Dari channel Youtubeku katanya. Aku langsung mengiyakan tawarannya. Saat proses kreatif membuat film, sama sekali aku tidak punya pikiran untuk nantinya akan dapat fee dari produksi ini. Yang terpenting aku bisa berkarya, hobiku tersalurkan, membangun relasi, dan bermanfaat bagi orang lain. Dan setelah produksi selesai, Alhamdulillah aku dapat rejeki dari hobiku membuat film ini. Padahal di youtube aku hanya bersenang-senang menghibur diri dan syukur-syukur ada orang lain yang terhibur. 

Setelah produksi pertama dengan SMA sebelah berhasil relasiku semakin banyak dan terus melebar ke sekolah-sekolah lain. Tanpa aku duga ternyata banyak sekolah bahkan Univesitas yang membutuhkan jasa pembuatan film. Setiap hari aku di contact dengan orang-orang baru membicarakan proyek. Satu bulan masuk 5 proyek besar yang bernilai jutaan katakanlah. Teman-temanku aku kerahkan semua untuk membantu menyelesaikan proyek besar ini (besar menurut pandangan pemula). Satu bulan yang penuh perjuangan akhirnya berlalu. Aku punya pendapatan dan bisa membantu teman-temanku menambah uang sakunya.

Namun masalah datang. Aku mulai mereview film-film. Kualitasnya ternyata semakin menurun dari produksi pertama sampai produksi yang terakhir. Penyebabnya adalah aku sangat terobsesi dengan kejar target, karena ini berhubungan dengan bayaran dari client. Jadi aku mulai mengabaikan kualitas filmnya. Saat itu aku mulai berpikir. Ini tidak sejalan dengan prinsipku berkarya yang selalu mengutamakan kualitas konten. Aku memutuskan untuk berhenti dari jasa pembuatan film. Ternyata aku belum siap professional.

Tapi itu bukan akhir cerita, aku berhenti bukan berarti menyerah. Belajar lebih giat lagi itu wajib, meningkatkan profesionalitas, dan tentunya memperdalam ilmu perfilman. Agar suatu saat nanti menjadi orang professional dalam segala segi industry perfilman. Banyak pelajaran yang aku ambil dari pengalaman ini. Hanya dari menghibur diri di Youtube ada banyak banyak orang yang ingin membayar kita. Jadi Ridwan kamil adalah orang yang sudah melewati masa bekerja dengan sangat mudah. Makanya beliau berani berucap seperti itu.

Mulai dari sekarang, jangan pernah takut salah dengan hobimu. Karena hobimu suatu saat akan menjadi teman terindah menjalani kehidupan. Terus tekuni, perdalam keilmuannya, bangun relasi, dan kuatkan kontennya maka hasil tidak akan menghianati semuanya. Bodoh amat dengan masalah rupiah. Teruslah memperkuat konten dan percayalah maka kamu akan dikuatkan dengan kepuasan dan rupiah sebagai hadiah. Mari kita menemukan jati diri yang sesungguhnya agar Indonesia semakin kaya akan kreatifitas dan stop berkeinginan hanya jadi karyawan. Ayo kita ciptakan banyak karyawan. Oh yaa, jujur, Aku punya cita-cita jadi pengusaha besar agar lebih bermanfaat bagi banyak orang. Tapi pertanyaannya adalah pengusaha apa?.

Azwar, 17 Tahun

Calon Petinggi
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net