Monday, August 22, 2016

Thursday, August 18, 2016

Ikutan Karnaval di KPU Kab. Jepara



Maskot KPU si ABDI

     semua instansi pemerintah, sekolah, dan Karang Taruna juga Komunitas-komunitas yang tersebar di pelosok negara turut serta dalam Meramaikan Hut RI ke-71. Ada yang upacara dibawah laut seperti di Raja Ampat ada yang touring dari aceh sampai papua, juga mendaki puncak merapi untuk mengibarkan Merah Putih di atas awan, semua itu dilakukan demi menyemarakan hari jadi Indonesia tercinta ini.
    Tapi bagaimana aku menyemarakannya…? sangat sederhana, terus belajar untuk membangun Indonesia yang lebih baik, dan itulah alasan terklasik dari setiap pelajar yang tidak punya kegiatan di HUT RI dari yang pertama hingga ke-tujuh puluh satu. Aku sekarang duduk dikelas 12 SMK N 3 Jepara dan itu bisa diartikan sebagai sesepuhnya Smk, sesuai dengan adat sekolahku barangsiapa yang sudah duduk di kelas 12 maka harus berhenti dari semua kegiatan ekstra dan harus tetap focus belajar untuk menghadapi ujian nasional alias aku nggak boleh ikut Karnaval nanti tanggal 18 Agustus. Itu menurutku aturan yang sangat mengekang dan sedikit membatasi kreativitas siswa. 
    Pak Ngateman sebagai Pembina teaterku ternyata dipercaya oleh lembaga Komisi Pemilihan Umum Kab. Jepara sebagai Korlap untuk karnaval 18 Agustus di Pendopo Jepara, seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pasti beliau akan meminta kami semua sebagai anggota teater untuk turut berpartisipasi dalam acara itu,. Benar saja, komando untuk segera menggelar rapat akbar dalam rangka pembahasan konsep Karnaval KPU sudah disiarkan. Ceritanya aku hari itu sedikit menghianati Smk karna nggak diajak karnaval :p. ini adalah kesempatan untuk tidak menganggur dan terus meratapi nasib sebagai jomblo addict.

    Kamis, 18 Agustus 2016 pemerintah Kabupaten Jepara menggelar Karnaval Akbar dalam rangka menyemarakan kegiatan HUT RI ke-71. Diikuti oleh seluruh instansi pemerintahan, sekolah, komunitas dan anggota ormas yang berjumlah kurang lebih 40 kelompok. Dua hari sebelum hari H dilakukan pengambilan nomor urut oleh panitia di Pendopo Kabupaten, Mas ngateman sebagai Korlap KPU segera mengambil nomor urut secara acak dan akhirnya keluarlah nomer urut 3 untuk KPU. Pukul 12.00 WIB kami tim karnaval sebagai penyampai pesan KPU mendapat briefing singkat dari Ketum KPU Kab. Jepara, bahwa pada karnaval tahun ini tidak untuk mendapatkan juara tapi hanya sebagai ajang sosialisasi kalau di tanggal 15 Februari 2017 akan ada pesta demokrasi di Jepara. Oh ya aku disini berperan sebagai orator KPU. Ekspektasiku kala itu indah sekali karena nanti selesainya pasti masih siang karena dapat nomer urut 3 dan bisa meneruskan menonton tim Smk.



    Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. semua jalan macet total, polisi sampai keteteran mengatur banyaknya penonton yang terus merangsek ke jalur peserta karnaval, acarapun molor sampai satu jam. Panas dikombinasi dengan kaki pegal-pegal dan harus berteriak berorasi dengan lantang membuat badan ini meminta haknya untuk mendapat asupan nutrisi agar kembali bersemangat. Ditemani oleh bang Semar sebagai orator kami sedikit mengobrol tentang bagaimana kedepannya Jepara yang katanya mempesona ini, mulai dari berimajinasi tentang pemimpin yang berintegritas sampai pemimpin yang cuma mikirin perut gendutnya saja. Sesuai dengan slogan KPU "Kalau mau pemimpin yang Amanah ya harus Berintegritas" aku dan kang Semar mulai masuk ke diskusi absurd membahas tentang apa sebenarnya arti kata "Integritas" dalam dunia politik. Kang Semar yang pengalamannya hidupnya lebih banyak dariku mulai menjelaskan apa itu integritas. menurutnya integritas itu adalah sifat dimana seorang manusia benar-benar yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan berpikir realistis. Itu jawabannya ngelantur atau apa aku juga tidak karena kurang ilmu bahasa. Kang semar akhirnya membalikan pertanyaan itu kepadaku "Kamu sebagai pelajar, Integritas itu apa menurutmu". Pertanyaan itu nampaknya ditujukan untuk memojokanku, tapi aku tidak kekurangan akal sama sekali, aku minta waktu beberapa menit untuk bepikir. dan beberapa menitku itu aku gunakan untuk browsing tanpa sepengetahuan kang Semar.







integritas/in·teg·ri·tas/ n mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran;

     Hasil diatas kutemukan saat aku browsing dengan kecepatan super tinggi yang bersumber dari KBBI Online dan ini kesempatanku menjawab pertanyaan kang semar layaknya orang berpendidikan. "Begini kang aku mewakili pelajar kata integritas itu artinya sifat yang harus dimiliki setiap orang khususnya pemimpin yang bisa mempersatukan seluruh baahannya, begitu kang menurutku". Jawaban yang aku karang kurang dari 5 menit. Kang semar menimpali dengan tawanya yang khas sehingga perutnya yang terbelit kemben terguncang-guncang, "Pendapat seseorang tidak ada yang salah, terlepas dari apa itu makna kata integritas pokoknya dalam pesta demokrasi nanti kita tidak dicurangi oleh oknum-oknum mafia juga lahirnlah pemimpin baru penuh integritas" kata Kang Semar dengan santai.











    Matahari mulai tergelincir di ufuk barat dunia bertanda hari mulai berganti malam, tenggorakanku amat kering setelah ngoceh dari alun-alun utama jepara sampai Gedung Haji Jepara. Tim karnaval KPU sudah mencapai finish dengan selamat tanpa ada yang tepar. Semoga orasi yang aku gembor-gemborkan dari awal alun-alun sampai berakhir di Gedung Haji ini masuk ke hati seluruh warga Jepara dan nantinya jepara tercinta yang akan menghadapi pesta demokrasi pada tanggal 15 Februari 2017 bisa segera berbenah sehingga benar-benar bersih dalam pelaksanannya. AMIINN.


Azwar, 17 Tahun
    

Thursday, August 11, 2016

Berpendapat Tentang Kebijakan KEMENDIKBUD “FULL DAY SCHOOL”


    Dikutip dari situs Instagram Indozone “Menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy baru-baru ini mengusulkan ide yang mengundang pro kontra, yaitu full day school (sekolah penuh seharian) dari pagi hingga sore”. Dan setelah aku coba browsing dari beberapa situs di dunia maya ternyata kebijakan ini hanya berlaku pada siswa sd dan smp jadi selamat untuk para siswa SLTA sederajat kalian tidak akan merasakannya, setiap kebijakan pastilah ada pro dan kontra dengan berbagai alasan yang bisa dimengerti juga alasan yang sangat egois.
    Jadi aku coba melakukan survey kecil kepada teman-teman sekitar untuk mengetahui bagaimana pendapatnya tentang sebuah kebijakan kontroversi ini :

“Bagaimana Pendapat kalian tentang kebijakan Full Day School jika di terapkan di SMK N 3 Jepara…?, setuju atau tidak setuju dan berikan alasan sesuai isi hatimu”.

1.       Indri Supriyati. Ketua Kelas, 17 Tahun
        Tidak Setuju
“Karena kita pelajar bukan kerja rodi malah tambah mumet bukan tambah maju

2.       KIrana, 16 Tahun
Tidak Setuju
“Ketika aku masih sekolah”
        Setuju
“Kalau aku udah lulus”

3.       Ahsana, 17 Tahun
Tidak Setuju
“Aku adalah anak pondok jadi aku harus benar-benar bagi waktu untuk di sekolah dan di pondok, mungkin kebanyakan orang akan merasa bosan karena jarang bertemu orang tuanya”

4.       Miftah, 16 Tahun
Tidak Setuju
“Kalau sore hari kendaraan umum itu susah dicari”

5.       Ali. seorang Blogger, 17 Tahun
Setuju
“Karena aku sudah kelas 12 jadi aku hanya merasakan sebentar, itupun kalau diterapkan ditingkat SLTA”

6.       Hakan. Audio Composer, 17 Tahun
Tidak Setuju
“Karena proses belajar mengajar tidak hanya berada disekolah saja, itu akan membuat siswa sangat sedikit kesempatannya untuk mengexplore bakatnya”

7.       Afif. Young Hacker, 17 Tahun
Tidak setuju
“Belajar sebegitu lamanya mungkin tidak akan dapat apa-apa wong yang sampai jam 2 saja sudah bosan apalagi seharian di sekolah, dan menurutku dunia pendidikan Indonesia harusnya lebih menekankan passion kepada siswanya, maksudnya begini tetap ada pembelajaran wajib tapi sedikit saja jamnya, dan menekankan pembelajaran passion kepada siswanya. Kalau bisa pemerintah mengusahakan system pendidikan di dunia maya yang sudah terinteragasi diseluruh sekolah pelosok negeri, jadi ketika kita berkarya dan dipublish aka nada apresiasi langsung dari seluruh Indonesia. Juga akan menjadi persaingan Dalam hal kebaikan.

8.       Ulhaq. Graphic Designer, 16 Tahun
Tidak setuju
“Jika otak diforsir, maka tidak aka nada yang masuk”

9.       Sabiq, 16 Tahun
Tidak setuju
“Karena aku harus membantu orang tua dirumah dan aku juga butuh waktu luang untuk mengistirahatkan pikiran”

10.   Arif, Seorang Blogger. 16 Tahun
Tidak Setuju
“Mungkin Indonesia akan lebih pintar namun psikologisnya akan terganggu”

11.   Berliana, 17 Tahun
Setuju
“Gak apa-apa karena aku sudah terbiasa pulang jam segitu”

12.   Dimas, 17 Tahun
Setuju
“Pak menteri ingin membuat pendidikan yang hebat”

13.   Berlin, 17 Tahun
Tidak setuju
“Kasian yang rumahnya jauh dan kita akan kurang piknik”

14.   Ricky. Aggota Palang Merah Remaja, 17 Tahun
Tidak Setuju
“Pada kenyataannya nanti dilapangan mungkin tidak akan sesuai dengan perencanaan”

15.   Yudita. Anggota Pramuka, 17 Tahun.
Tidak Setuju
“Pembelajaran tidak akan efektif”.

    Lebih dari 90% menyatakan “Tidak Setuju” karena berbagai alasan masing-masing, namun survey yang aku lakukan belum bisa mewakili suara SMKN 3 Jepara karena aku hanya mengambil lingkup teman-teman terdekatku. Kesimpulan yang bisa aku tangkap dari permasalahan ini adalah para siswa akan sangat setuju dengan kebijakan ini tapi dengan system yang harus dirombak. Siswa harus merasa sangat nyaman, fasilitas terpenuhi, Kendaraan umum mudah didapatkan untuk pulang sore, juga bakat siswa yang harus berkembang. Maka siswa tidak akan ada alasan untuk berkata tidak setuju.
    Jika aku melihat dari pendapat-pendapat netizen di dunia maya banyak pendapat yang sama dengan teman-temanku yang aku survey tadi. Di Jepang saja pendidikan hanya 6 jam dan memberi waktu untuk tidur siang selama 20-30 menit untuk merefresh otak, di Finlandia yang dinobatkan sebagai negara dengan system pendidikan terbaik didunia memerapkan 5 Jam saja untuk sekolah dan sisanya untuk bermain tapi SDM kedua negara ini diakui dunia.

    Disisi lain juga ada yang menyatakan “Katanya mau memajukan Indonesia, pendidikan dikeras sedikit kok pada protes”. Memang seperti dua sisi mata uang tidak akan pernah terpisah, akan selalu ada pro dan kontra dalam kebijakan apapun tapi disinilah negara sedang diuji juga orang cerdas yang berakal sehat harus berani besuara dan mengubah citra negeri yang dikatan surga ini. Semoga kedepannya pendidikan sebagai ujung tombak perubahan ini akan selalu berkembang dan membawa Indonesia menjadi macan dunia.

Tuesday, August 9, 2016

Jangan DITUNDA!!!

 
 
    Tanggal 27 Juli 2016, tepat hari itu kepala sekolah sedang punya khajat dirumahnya, dan aku mendapat himbauan dari kepala jurusan multimedia Bapak Budiarjo untuk mendokumentasikan hajat Bapak H. Asyhari selaku kepala sekolahku. Dengan permintaan harus siaran langsung, mau tidak mau aku dan 4 temanku Dimas, Ibad, Iqbal, Rafih harus minta bantuan ke Pak Iwan sebagai pembimbing broadcasting di SMK ku, seumur hidup dan selama aku sekolah disini aku belum pernah melakukan siaran langsung, tapi inilah tantangan baru untuk terus berkembang, dan Pak Budiarjo selalu menanamkan doktrin kepada kami “Jangan berharap bayaran kalau masih banyak belajar, kalian malah sangat beruntung dengan penglaman dan ilmu baru. Seperti yang aku baca dalam buku trilogy 5 menara karya kang Anwar Fuadi yang mengutip kata dari Imam syafi’I “Bersusah-susahlah dulu karena manisnya hidup setelah bersusah payah”.
    Manjadda wajada. Siapa yang bersungguh-sunguh akan berhasil. Satu hari menuju Rabu, 27 Juli 2015 itu tandanya aku harus belajar ekstra keras dalam belajar melakukan siaran langsung agar mendapat hasil terbaik dan memberi kepuasan batin kepada Pak Kepsek juga diri sendiri dan ini berarti aku harus mengorbankan beberapa hari dikelas untuk persiapan alat dan belajar siaran langsung dari pak Iwan.
     Rabu 27 Juli 2016, tibalah hari tantangan baru, sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya, jam 12 siang crew harus sudah stand by dan menuju kediaman Bapak Asyhari. Karena disini peranku bukan sebagai cameramen atau operator tapi sebagai photographer untuk menata alat. Sehabis Isya’ acara segera dimulai pengunjung dari sudut berbeda mulai menyembul dari kegelapan, meninggikan kepala mencari tempat duduk ternyaman. Aku yang dianggap pandai berbicara secara tidak langsung diangkat menjadi pemimpin crew kecil ini di bawah asuhan pak Iwan juga Pak Budi ditambah lagi Pak Bas yang baru menyusul.
    Hari itu aku beruntung sekali impianku untuk mengambil gambar dengan camera canon yang digitnya Cuma satu akhrinya benar-benar dikabulkan Tuhan. Sungguh Allah Maha Pemberi Kejutan, Pak Bas yang membawakanku kamera Canon 7D dengan lensa tele 150 mm juga dilengkapi flash kecil diatasnya terlihat sangat nice, mungkin Pak Bas tahu bagaimana memberi kejutan kepada seorang pecinta photography. Selain memegang camera 7D tele lens aku juga harus mengontrol cameramen, LCD Proyektor juga operator, sedikit ku tuliskan sesuatu dipikiran juga hatiku “Malam ini kita akan mandi keringat, tapi pulang dengan sejuta ilmu dan pengalaman, apa kau siap…?” Kujawab sendiri lewat mulutku “SIAP”. Pembawa acara sudah melangkahkan kakinya ke atas panggung dan kami sedikit belum siap menerima serangan salam yang segera keluar dari mulut mas MC karena proyektor tidak bisa bekerja dengan semestinya, maka aku tinggalkan sebentar tugas sebagai phothograper untuk membantu Pak Budi menyelesaikan masalah proyektor sialan ini.
     “Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuhhhhhhh” suaranya begitu menggema membuat penonton semua menjawab ucapan penuh doa ini “Waalaikumsalam Warahmatullahiwabarakatuh”  menadakan acara ini resmi dimulai. Masih dengan proyektor yang hari ini kayaknya ngambek tidak mau mengeluarkan out video yang sudah live. Pak Budi tanpa pikir panjang langsung menghubungi Pak Iwan untuk membantu di situasi genting ini. Malam ini penuh ketegangan tapi inilah sensasi yang aku cari setelah lama tidak kuraskan di ekstra wajib sekolah, Keringat ini nampaknya sudah bosan untuk keluar dari tubuh yang lemah ini namun aku sangat percaya semua akan indah tepat pada waktunya. Gelisah juga pengaharapn sia-sia di otaku aku hentikan dari pikiranku saat itu juga…!!! Demi untuk membuktikan ke Pak Kepsek bahwa multimedia juga bisa berkembang dan lebih dari apa yang diperhitungkan.
    Pak Iwan akhirnya datang bak seorang pahlawan yang sangat ditunggu oleh sejuta rakyatnya, dengan sedikit sombong Pak Iwan mengeluarkan jurusnya “sini serahkan pada ahlinya” dan seketika itu masalah selesai. Akhirnya aku segera berlalu dengan menenteng Canon 7D dan segera menuju ke pusat acara berlangsung. Seni melukis cahaya memang benar-benar aku sukai dan akhir-akhir ini mulai kutekuni, orang menyebut ini passion entah apa itu pengertiannya, katanya kalau orang sudah bekerja pada passionnya sudah lupa kalau jam itu bisa berputar dan katanya lagi mereka siap tidak dibayar kalau sudah berjalan di atas passionnya, tapi menurutku itu Bulshittt!!!!.
    Acara malam itu sangatlah khidmat dan berjalan tanpa kendala yang berarti, satu demi satu tamu undangan mulai turun dari dalam mereka masing mulai dari pembicara pengajian K H Doeri Asyari sampai Bapak Bupati K H Ahmad Marzuqi dan juga sebagai pertanda aku harus bergegas menuju kerumunan orang yang ingin bersalaman untuk mendapatkan angle terbaik untuk mengambil gambar karena setiap foto harus bercerita dengan sendirinya kata Mas Ngateman guru Seni Budaya juga sebagai Pembina Teater. Rasa lelah mulai menggerogoti tubuh kecil ini keringat mengalir seenaknya sendiri, kaki juga enggan diajak berayun, malam semakin malam dan siap dijemput pagi selanjutnya, akhirnya iringan lagu padang bulan membawa acara ini ke penghujungnya.
    Tugas selanjutnya adalah mengedit foto juga video dan itu pasti diserahkan ke aku semuanya entah dengan alasan apa. Satu minggu adalah waktu yang diberikan Pak Budi untuk meyelesaikan semuanya pengeditan yang membosankan ini. Satu minggu berlalu video maupun videonya belum kusentuh sama sekali alias aku menunda-nunda pekerjaan, hingga tiba tanggal 6 Agustus Pak Budi mulai menanyakan bagaimana perkembangan videonya itu adalah kalimat yang tidak ingin kudengar hari itu. 8 Agustus adalah kesepakatan terakhir untuk menyelesaikan pengeditan. Jadi dengan terpaksa malam minggu ini aku harus didepan computer semalaman ditemani kopi juga makanan ringan.
    Kompetisi foto pada malam itu harus dengan berat hati harus aku tinggalkan karena kebodohankan menyepelekan waktu juga minggunya pergi ke Pulau Panjang menjadi korban kebodohanku selanjutnya. Praktis hari itu aku membatalkan dua hiburan bersama sahabat-sahabatku jadi buat kalian jangan pernah menunda-menuda pekerjaan karena itu bujuk rayu setan agar kau terburu-buru karena sesungguhnya orang yang terburu-buru ada setan yang sangat bergembira.



Azwar, 17 Tahun

Friday, July 15, 2016

Review Novel 2 (NATIONAL BEST SELLER) DONNY DHIRGANTORO PENGARANG NOVEL BEST SELLER 5 CM



Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia ,
di mana impian di bawa ke dunia nyata,
tidak berlaku untuk Gusni Annisa Puspita,
remaja yang kelebihannya adalah keterbatasannya.
Cita-citanya sejak kecil untuk membuat orang tuanya senang
dengan bermain bulutangkis terus kandas

Suatu malam sebuah kenyataan pahit datang untuknya,
sebuah kenyataan yang tak berperi, hidup yang tidak berpihak kepadanya,
kenyataan yang berbicara lantang kalau bermimpi saja tidak akan pernah cukup.

Dan, perempuan Indonesia dengan segala
keterbatasannya  itu memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tidak pernah sempurna.

Memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani
(Sinopsis Novel)

    Dhonny Dhirgantoro dalam coretannya yang berjudul 5 cm berhasil mendapatkan National Best Seller pada masanya atau di tahun 2005 tepatnya, ditambah lagi dengan pengangkatan novelnya ke layar lebar semakin mengangkat namanya ke dunia tulis menulis Indonesia. Di tahun 2008 setelah mempertimbangkan banyak hal, didukung penuh istrinya ia memutuskan untuk menjadikan hobinya menulis sebagai pekerjannya. Keputusan berani yang harus terus dibarengi dengan kerja keras sampai sekarang.
    Novel berjudul 2 adalah karya keduanya yang menceritakan perjuangan seorang anak perempuan yang bernama Gusni Annisa Puspita, terlahir dengan kondisi berbeda dengan anak kebanyakan tak membuat Gusni berputus asa ataupun mengurung diri. Di umur yang ke 18 tahun akhirnya Gusni adik kandung dari Gita Annisa Srikandi mengetahui keadaan yang sebenarnya pada dirinya yang selama ini disembunyikan keluarganya, ia menderita penyakit diabetes akut yang menyebabkan penderitanya tidak bisa hidup lama lagi. Kabar duka yang baru saja ia dengar tak membuat Gusni menyerah dalam mempertahankan hidupnya. 25 tahun adalah vonis dokter untuk Gusni, tapi Gusni terus melawan penyakitnya, melalui bulutangkis dia setiap hari berlatih ektera keras untuk terus berkeringat agar lemak tidak berkembang semakin cepat.
     Pada suatu ketika Gusni dan kakaknya Gita turun dalam suatu kejuaran bulutangkis akbar se dunia yang digelar di Istora Senayan Jakarta, Indonesia sebagai tim underdog tidak unggulkan sama sekali berhasil membuktikan bahwa kerja keras, doa, dan cinta tanah air adalah jawaban dari semua mimpi-mimpi kita. Tim srikandi Indonesia berhasil membuat lagu Indonesia Raya bergema di seluruh pelosok negeri.
……………
(spoilernya cukup)


    Banyak sekali pelajaran kehidupan yang bisa kita ambil dari novel 2 ini. Sahabat, Cinta, dan Perjuangan menjadi point utama dalam jalan ceritanya, Alur yang ditata rapi memudahkan pembaca mengimajinasikannya dalam dunia nyata. Tata Bahasa yang merakyat juga istilah asing yang masih bisa dipahami pembaca adalah point plus-plus novel 2 ini.

Quotes dalam Novel 2 :
1.      Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia , di mana impian di bawa ke dunia nyata.
2.      Jangan pernah meremehkan manusia karena sedikitpun Tuhan tidak pernah.
3.      Karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna
4.      Bermimpi saja tidak akan pernah cukup dan sebuah impian tidak perlu banyak dibicarakan tetapi diperjuangkan.
5.      Setidaknya sebuah perjuanagn layak untuk dikenang.
6.      Sebagai manusia seharusnya berani mencintai dan mencintai dengan berani.


Azwar, 17 tahun
Pelajar Gagal

Tuesday, July 5, 2016

Pawai “GEMA TAKBIR HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H”

“Dentuman tongtek yang dilantunkan anak-anak kampung menyemarakan Takbir Keliling malam ini, diimbangi dengan letusan kembang api yang mengagetkan juga meng-enakan pandangan mata serta ALLAHUAKBAR yang terus berkumandang membuat relung hati ini menjadi tersentuh dan bersyukur kita bisa berjumpa dengan malam kemenangan 1437 Hijriyah”


      IRMAS (Ikatan Remaja Masjid) salah satu organisasi yang bergerak dibidang agama dan social berisi sekumpulan remaja yang masih peduli dengan rusaknya moral pemuda penerus bangsa ini, kegiatan yang bermacam dan positif sedikit banyak mengurangi populasi pemabuk di desaku yang terus menggeliat pertumbuhannya. Memasuki awal Ramadhan 1437 Hijriyah atau 2016 tepatnya Irmas tidak banyak melakukan kegiatan karena ada sedang ada percecokan antar pengurus.
    Tidak terasa kala itu Ramadhan segera pergi menjauh dan meninggalkan kita untuk kembali satu tahun lagi, dan tradisi di kampungku yang terletak di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, desa Srobyong tepatnya, entah asal-usul nama desa itu darimana aku juga nggak tahu adalah TAKBIR KELILING atau aku menyebutnya mirip pawai dan ajang pamer kreativitas antar remaja masjid dan mushola dalam membuat Karya unik seputar idul fitri yang nantinya akan di arak keliling kampung. Dengan intrupsi dari Pembina dan juga ketua Irmas kami segera seluruh anggota untuk memulai bergotong royong membuat sesuatu yang akan dipamerkan di malam Pawai Takbir Keliling, demi menjaga gengsi karena aku remaja masjid Jami’ harus benar-benar menjadi panutan dari masjid dan mushola lain, namun semua ekspetaksiku yang nantinya akan gotong royong dalam membuat miniature masjid sirna sudah setelah project berjalan selama dua hari, hanya janji yang diberikan teman-temanku akan membantu dan realitanya nol besar. Aku dan Muhaimin ketua Irmas segera memutar rencana dan membatalkan project miniature masjid dengan alasan kekurangan personil, waktu, dan juga dana tentunya.
     Jadilah kami hanya membuat gubuk kecil dan menaikan mimbar bekas untuk takbir keliling malam itu, sungguh pemuda tanpa kreativitas yang tidak patut dicontoh. Pergilah kami rombongan Masjid Jami’ Baiturrohman ke medan pertempuran dengan senjata seadanya. Sesampainya di titik kumpul, seketika itu aku langsung merasa minder dan tidak pernah berharap lagi jadi juara masjid atau mushola terkreatif, tertawa kecil dan menundukan kepala juga bertanya dalam hati “Kenapa masjid dan mushola lain bisa membuat karya miniature yang bagus dan unik pastilah pemudanya kompak dan kreatif nggak kayak di masjidku”. Sambutan dari petinggi desa sebelum melepas takbir keliling malam itu membuat hatiku sedikit tentram dan asa mulai tampak lagi ketika beliau berucap “Bukan miniature masjid mana yang paling bagus tapi gema takbir yang menggemalah tujuan dari diselenggarakannya acara ini”.
     ALLAHUAKBAR, ALLAHUAKBAR, ALLAHUAKBAR sepanjang jalan memutari desa hanya lantunan itu yang kudengar, benar yang dikatakan pak petinggi sebelumnya menggemakan takbir adalah tujuan utama acara ini, akhirnya aku bisa merasakan syahdunya gema takbir yang terus menggema di relung hatiku yang rindu akan kebersamaan umat muslim seperti malam ini.
    Macet adalah masalah klasik dalam takbir keliling dikampungku entah itu dari panitianya yang kurang koordinasi atau dari peserta dan warga yang nggak tertib, setelah berkeling kampung dengan gema takbir sepanjang jalan akhirnya Takbir Keliling finish di Masjid Jami’ Baiturrohman Srobyong atau didaerah kekuasaanku. Penguman siapa yang menjadi masjid mushola terkretaif segera dibacakan dan aku dan teman-teman irmas menunggu pengumuman tanpa beban karena kami merasa kalah sebelum bertanding. Juara harapan 3 sampai juara umum telah dibacakan namun tidak ada satupun teriakan kemenangan dari sudut kami yang menunggu di pojok pelataran masjid. Tidak ada rasa kecewa yang Nampak dari wajah-wajah kami karena kami sadar proses tidak akan pernah menghianati hasil.









    “Masjid Jami’ Baiturrohman ..perwakilan silahkan maju kedepan untuk mengambil hadiah hiburan” hanya kalimat itu yang terdengar dari sudut kehormatan, dengan gagah aku maju mengambil hadiah hiburan bagai seorang yang juara pertama dengan sorakan penghinaan di belakangku, teman-teman sudah berkumpul dan menanti apa yang ada didalam bungkus coklat yang kubawa ini. Semuanya menghitung “1..2..3..bukaaa” tanpa pikir panjang dan banyak omong tangan-tangan kecil dan kotor saling berebut mie instan yang ternayata itu hadiah hiburan takbir keliling malam itu, tawa lebar dan saling berebut mie instan dengan riang membuat hatiku tersayat karena selama ini aku hanya mementingkan egoisku tanpa memikirkan kebahagiaan orang lain di sekelilingku. Malam itu memberiku pelajaran bahwa kebahagian tidak harus dikota dengan gadget canggih tapi hanya cukup kita ketawa tanpa rekayasa dengan orang disekitar kita.


Azwar, 16 tahun
Pelajar Gagal 
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net